Latest Entries »

MIKROSKOP

Mikroskop (bahasa Yunani: micros = kecil dan scopein = melihat) adalah sebuah alat untuk melihat objek yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata kasar. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut mikroskopi, dan kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata.

 

Jenis-jenis mikroskop

Mikroskop digital yang bisa tersambung dengan komputer

Jenis paling umum dari mikroskop, dan yang pertama diciptakan, adalah mikroskop optis. Mikroskop ini merupakan alat optik yang terdiri dari satu atau lebih lensa yang memproduksi gambar yang diperbesar dari sebuah benda yang ditaruh di bidang fokal dari lensa tersebut.

Berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibagi menjadi dua, yaitu, mikroskop cahaya dan mikroskop elektron.

Mikroskop cahaya sendiri dibagi lagi menjadi dua kelompok besar, yaitu berdasarkan kegiatan pengamatan dan kerumitan kegiatan pengamatan yang dilakukan. Berdasarkan kegiatan pengamatannya, mikroskop cahaya dibedakan menjadi mikroskop diseksi untuk mengamati bagian permukaan dan mikroskop monokuler dan binokuler untuk mengamati bagian dalam sel. Mikroskop monokuler merupakan mikroskop yang hanya memiliki 1 lensa okuler dan binokuler memiliki 2 lensa okuler. Berdasarkan kerumitan kegiatan pengamatan yang dilakukan, mikroskop dibagi menjadi 2 bagian, yaitu mikroskop sederhana (yang umumnya digunakan pelajar) dan mikroskop riset (mikroskop dark-field, fluoresens, fase kontras, Nomarski DIC, dan konfokal).

SUSU KEDELAI

Susu kedelai beberapa tahun yang lalu mungkin merupakan minuman yang populer, namun kini bisa dikatakan susu kedelai mulai memiliki peminat yang cukup banyak. Susu kedelai sendiri kini sudah mulai merambah ke berbagi tempat pemasaran, mulai dari di dalam bus kota yang penyajiannya seadanya saja dengan hanya di bungkus plastik sampai dengan mal-mal dalam kemasan yang lebih eksklusif.

Sebenarnya apa sih yang menyebabkan perkembangan konsumsi susu kedelai sedemikian pesatnya, kemudian apa saja manfaat yang dapat diperoleh dari konsumsi susu kedelai?

Temukan jawabannya di artikel di bawah ini!

Gizi dan Manfaat Susu Kedelai

Sejak zaman dahulu kacang kedelai dikenal sebagai salah satu makanan yang memiliki tingkat protein nabati sangat tinggi. Tidak hanya itu, kacang kedelai terutama yang sudah diolah menjadi susu kedelai ternyata memiliki kandungan gizi yang tidak kalah, bahkan memikili kandungan yang jauh lebih baik bila dibandingkan dengan susu sapi biasa.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh beberapa pakar gizi, susu kedelai sangat dianjurkan untuk dijadikan sebagai pengganti susu formula untuk bayi di atas 4 bulan karena terbukti lebih aman dari bakteri jahat yang bisa menimbulkan gangguan kesehatan pada bayi.

Nilai nutrisi yang terkandung dalam susu kedelai antara lain :
1. 38% Protein nabati (protein kedelai)
2. 18% Lemak tak jenuh
3. 15% Serat
4. 15% Karbohidrat
5. Mineral lainnya seperti :
– Kalsium yang sangat berguna untuk pertumbuhan dan kekuatan tulang
– Isoflavon yang dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dan mencegah kanker
– Lecithin membantu meningkatkan daya ingat dan mencegh terjadinya penyakit Alzheimer’s
6. Vitamin seperti Vitamin D, Vitamin E dan Vitamin B

TERUMBU KARANG

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae.[1Terumbu karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel.Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia, yang keduanya dibedakan secara asal-usul, Morfologi dan Fisiologi.

Koloni karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebut Polip.[3] Dalam bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh Tentakel.Namun pada kebanyakan Spesies, satu individu polip karang akan berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni.Hewan ini memiliki bentuk unik dan warna beraneka rupa serta dapat menghasilkan CaCO3.Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai spesies tumbuhan laut, hewan laut, dan mikroorganisme laut lainnya yang belum diketahui.

 

Manfaat

karang sebagai tempat hidup ikan

Terumbu karang mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi maupun ekonomi.Estimasi jenis manfaat yang terkandung dalam terumbu karang dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu manfaat langsung dan manfaat tidak langsung.

Manfaat dari terumbu karang yang langsung dapat dimanfaatkan oleh manusia adalah:

  • sebagai tempat hidup ikan yang banyak dibutuhkan manusia dalam bidang pangan, seperti ikan kerapu, ikan baronang, ikan ekor kuning), batu karang,
  • pariwisata, wisata bahari melihat keindahan bentuk dan warnanya.
  • penelitian dan pemanfaatan biota perairan lainnya yang terkandung di dalamnya.

Sedangkan yang termasuk dalam pemanfaatan tidak langsung adalah sebagai penahan abrasi pantai yang disebabkan gelombang dan ombak laut, serta sebagai sumber keanekaragaman hayati.


Laut Indonesia yang luasnya mencapai 5,8 juta km2 itu, ternyata mampu menyerap sekitar 44 persen dari seluruh jumlah karbon dioksida (CO2) di atmosfer. Demikian penjelasan Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, di Jakarta, Selasa (31/7).

Pemanasan global itu muncul karena gas CO2 semakin banyak di atmosfer. Kenaikan gas itu disebabkan oleh banyaknya pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya. Biasanya, kenaikan gas CO2 itu akan diserap oleh tumbuh-tumbuhan dan laut. Gas CO2 sendiri dibutuhkan oleh Bumi agar suhunya tidak dingin. Namun, bila tumbuh-tumbuhan dan laut tidak mampu menyerap kenaikan gas CO2 ini, maka akan terjadi pemanasan global. Fungsi LautSalah satu fungsi dari laut adalah menyerap CO2. Bagaimana caranya? Di laut, ada sebuah sistem rantai makanan, yang berfungsi sebagai carbon sinks. Awal dari sistem rantai makanan itu adalah fitoplankton (alga) yang membutuhkan karbon dari gas CO2 untuk fotosintesis. Karbon itu mereka serap dari atmosfer.

Dengan karbon itu, plankton tetap bisa hidup. Ia lalu menjadi makanan bagi ikan-ikan. Dan ikan adalah makanan untuk manusia. Nah, dengan kemampuan laut menyerap CO2, terjamin pula kelangsungan kehidupan di laut.Binatang bercangkang atau berkerang juga menggunakan karbon untuk membuat cangkang atau kerang mereka.
Mereka juga menyerap CO2 dari atmosfer. (LAN) Foto: flickr.com Kata sulit:Carbon sinks: tempat untuk menyimpan atau menyerap gas karbon dioksida yang terdapat di atmosfer bumi.Fotosintesis: proses memasak makanan dengan hijau daun melalui cahaya matahariPlankton: organisme laut (tumbuhan dan hewan) yang sangat halus, melayang di dalam air dan merupakan makanan utama ikan.

source : http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.deplujunior.org/assets/images/laut.jpg&imgrefurl=http://www.deplujunior.org/koran_berani.html%3Fid%3D280&usg=__A7U5zCwi8EO0z5_Jx3w3oFV64ns=&h=199&w=300&sz=33&hl=id&start=4&um=1&tbnid=dJNEj2G9qAX4pM:&tbnh=77&tbnw=116&prev=/images%3Fq%3Dlaut%2Bindonesia%26hl%3Did%26sa%3DG%26um%3D1

Hutan sebagai satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui, sudah seharusnya dikelola secara lestari dan berkelanjutan, agar dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Prasyarat menuju pengelolaan hutan secara lestari dan berkelanjutan, tidak terlepas dari kebutuhan data dan informasi yang lengkap, terpercaya dan terkini.
Salah satu informasi yang dibutuhkan adalah tentang kondisi terkini tutupan hutan dan penggunaan lahan. Informasi ini menjadi landasan untuk memanfaatkan dan mengelola sumber daya hutan, sehingga terwujudnya penyelenggaraan kehutanan yang menjamin kelestarian hutan dan peningkatan kemakmuran rakyat. Tutupan hutan sebagai barometer kondisi hutan terus berkurang, sejalan dengan konversi dan eksploitasi yang telah dilakukan. Pada tahun 2003, Departemen Kehutanan sebagai lembaga penyedia data kehutanan mengatakan tutupan hutan hanya sekitar 94 juta hektar atau sekitar setengah dari total luas lahan di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada tahun 2007 melakukan interpretasi citra Landsat7 ETM+, dengan menggunakan data pemotretan citra satelit tahun 2004 – 2006 yang digeneralisasi menjadi data tahun 2005, menunjukan bahwa tutupan hutan pada seluruh region di Indonesia berkurang menjadi sekitar 83 juta hektar. Walaupun dengan catatan, masih ada sekitar 33 juta hektar yang belum dapat diidentifikasi sebagai hutan maupun non hutan karena areanya tertutup oleh awan.
Kondisi tutupan hutan di pulau Kalimantan dan Papua memiliki kecenderungan menurun dari tahun ke tahun, sedangkan di region lainnya tutupan hutan mengalami penurunan maupun peningkatan luas. Walaupun demikian ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penghitungan di atas, seperti besar-kecilnya data yang tidak dapat diolah karena tertutup awan serta perbedaan metode yang digunakan dalam melakukan analisis. Sejauh ini, data hasil interpretasi citra satelit tahun 2003 masih menjadi acuan penghitungan tutupan hutan dan menjadi sumber data resmi yang digunakan di Departemen Kehutanan. Hal ini tidak terlepas dari proses pembaruan data yang dilakukan, yaitu pada setiap tiga tahun sekali. Dengan kondisi data seperti ini maka tingkat akurasian data akan menjadi sebuah pertanyaan, apalagi dengan metode penghitungan yang menggunakan peta skala tinjau (1:250.000) dan menggunakan 23 jenis klasifikasi tutupan hutan dan penggunaan lahan.
Sumber data yang beragam serta perbedaan metode dan klasifikasi, akan menyulitkan penghitungan laju perubahan tutupan hutan setiap tahunnya. Sebagai contoh, analisis FAO (Food and Agricultural Organisation) mengatakan tutupan hutan Indonesia pada tahun 2005 hanya sekitar 88,5 juta hektar atau sekitar 48,8% dari total luas lahan dan 46,5% dari total luas wilayah.

Laju Perubahan Tutupan Hutan Indonesia

Perubahan tutupan hutan yang disebabkan oleh dampak dari kerusakan fungsi hutan dalam skala besar dimulai sejak awal tahun 1970-an, yaitu ketika perusahaan pengusahaan hutan mulai beroperasi. Pada periode tahun 1970 hingga 1990-an, laju kerusakan hutan diperkirakan antara 0,6 sampai 1,2 juta ha per tahun.10 Kemudian, pemetaan yang dilakukan oleh pemerintah dengan World Bank, mengatakan bahwa laju kerusakan hutan selama periode 1986 – 1997 sekitar 1,7 juta ha per tahun, dan mengalami peningkatan tajam sampai lebih dari 2 juta ha/tahun (FWI/GFW, 2001).
Selama periode 2000 – 2006 telah dipublikasi berbagai versi perkiraan kerusakan hutan Indonesia. Angka dari Departemen Kehutanan adalah 2,83 juta ha per tahun, dalam kurun waktu 1997-2000 (2005). Pada tahun 2007, dalam buku laporan State of the World’s Forests, FAO (Food and Agricultural Organization) menempatkan Indonesia di urutan ke-8 dari sepuluh negara dengan luas hutan alam terbesar di dunia. Dengan laju kerusakan hutan di Indonesia telah mencapai 1,87 juta ha dalam kurun waktu 2000 – 2005, mengakibatkan Indonesia menempati peringkat ke-2 dari sepuluh negara, dengan laju kerusakan tertinggi dunia.
Seperti pemaparan di atas, dengan kenyataan bahwa ketersediaan data yang beragam dan dengan sumber data serta metode yang berbeda-beda, FWI mencoba melakukan penghitungan laju perubahan tutupan hutan dalam kurun waktu 1989 – 2003. Hasil analisis sementara, menunjukkan bahwa tutupan hutan Indonesia telah mengalami perubahan akibat dari penurunan kualitas hutan (degradasi) dan kehilangan tutupan hutan (deforestasi), yang diperkirakan sekitar 4,6 juta ha/tahun. Laju tutupan hutan yang hilang (deforestasi) diperkirakan sekitar 1,99 juta ha/tahun.
Perkembangan industri perkayuan, pemberian ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK) pada hutan alam (HA) maupun hutan tanaman (HT), ijin pemanfaatan kayu (IPK), pelepasan kawasan untuk perkebunan dan pertambangan, serta maraknya pembalakan liar (illegal logging) terus mempengaruhi perubahan tutupan hutan yang tersisa di Indonesia. Sistem hukum, politik dan ekonomi yang korup dan tidak transparan, yang menganggap sumber daya alam khususnya sumberdaya hutan sebagai sumber pendapatan dan keuntungan semata, telah memberi kontribusi besar dalam kerusakan hutan Indonesia.
Lembar informasi ini mencoba mengulas secara singkat tentang kinerja para pelaku di sektor kehutanan, seperti industri kehutanan, IUPHHK-HA, IUPHHK-HT, pelepasan kawasan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, pertambangan maupun IPK, yang mempengaruhi kondisi tutupan hutan di Indonesia. Untuk data-data yang lebih detail, akan kami sajikan dalam sebuah buku laporan tentang Potret Keadaan Hutan Indonesia (PKHI) jilid II atau yang dikenal dengan State of the Forest Report-Indonesia yang segera terbit tahun depan.

Industri Perkayuan (Industri Hasil Hutan)

Industri perkayuan di Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang cepat dan perubahan struktur selama periode 1980-2005. Pertumbuhan industri ini, secara tidak langsung mempengaruhi terjadinya perubahan kondisi hutan yang tersisa. Berdasarkan produksi kayu olahan dari tahun 2000 sampai tahun 2005, produksi industri kayu gergajian dan dan kayu lapis + veneer menurun sangat signifikan, yaitu dari 6,50 juta m3 dan 8,27 juta m3 pada tahun 2000 menjadi 4,33 juta m3 dan 4,67 juta m3 pada tahun 2005.
Produksi kayu gergajian dan kayu lapis + veneer pada periode ini jauh lebih kecil daripada realisasi produksi pada masa puncaknya, yaitu 10.4 juta m3 pada tahun 1989 untuk kayu gergajian dan 9,6 juta m3 pada tahun 1997 untuk kayu lapis + veneer. Sementara itu, produksi pulp mengalami peningkatan dari 4,09 juta ton pada tahun 2000 menjadi 5,47 juta ton pada tahun 2005. Industri pulp telah menjadi industri yang paling banyak mengkonsumsi kayu bulat selama periode 2000-2005. Realisasi penggunaan kapasitas terpasang industri kayu gergajian dan dan kayu lapis + veneer menurun dengan tajam pada periode tahun 2000 sampai tahun 2005, yaitu dari 58,8% dan 87,7% pada tahun 2000 menjadi 41,3% dan 42,1% pada tahun 2005.
Kecenderungan-kecenderungan ini menunjukkan bahwa defisit bahan baku kayu bulat masih terus dihadapi oleh kedua industri meskipun hal kelangkaan bahan baku kayu pada kedua industri tersebut sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1997 (Simangunsong 2004). Sebaliknya yang terjadi pada industri pulp, realisasi penggunaan kapasitas terpasang industri pulp pada periode 2000-2005 terus meningkat dan berkisar 78,2% – 84,8%.

Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu di Hutan Alam (IUPHHK-HA)

Departemen Kehutanan melaporkan pada tahun 199316, jumlah Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dari Hutan Alam (IUPHHK-HA/HPH) yang aktif beroperasi adalah 575 unit dengan luas areal 61,70 juta ha. Jumlah IUPHHK-HA ini kemudian menurun dengan drastis menjadi 303 unit dengan luas areal 28,10 juta ha sampai dengan Agustus 2006.
Dengan kata lain, saat ini ada sekitar 33,60 juta ha areal HPH yang notabene merupakan hutan alam, mengalami degradasi ataupun deforestasi. Penurunan jumlah IUPHHK-HA ini terjadi karena semakin rusaknya sumberdaya hutan alam serta terjadinya krisis ekonomi, perubahan politik nasional, dan awal pelaksanaan otonomi daerah Indonesia yang dimulai pada tahun 1997 yang hingga sampai saat ini masih tetap berlangsung.
Sampai Agustus 2006, jumlah IUPHHK-HA yang tidak aktif berjumlah 154 unit dengan luas 17,38 juta ha. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab banyaknya IUPHHK-HA yang tidak aktif beroperasi, yaitu faktor internal yang meliputi: tidak sehatnya perusahaan, kurang profesionalnya sumberdaya manusia, rendahnya komitmen terhadap pengelolaan hutan, sikap menunggu situasi yang kondusif dan pemegang ijin hanya menunggu situasi kondusif; dan faktor eksternal yang mencakup: inkonsistensi dan tidak terintegrasinya aturan pusat dan daerah, belum teratasinya kegiatan illegal logging, dan tidak adanya kepastian berusaha.

Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu di Hutan Tanaman (IUPHHK-HT)

Walaupun telah diberikan berbagai kemudahan, tetap saja realisasi penanaman pada areal HTI atau Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu di Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) tergolong kecil bila dibandingkan dengan luas kawasan hutan yang telah diberikan pemerintah untuk pembangunan hutan tanaman ini. Perum Perhutani saja telah menguasai sebesar 1,78 juta ha kawasan hutan produksi di seluruh pulau Jawa. Dan saat ini tidak kurang dari 10,2 juta ha kawasan hutan negara terutama di pulau Sumatera dan Kalimantan telah dialokasikan untuk pembangunan hutan tanaman dan dikuasai oleh 248 perusahaan, baik swasta murni maupun patungan.
Dimulai dari tahun 1996, luas dan jumlah IUPHHK – HT mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Tetapi peningkatan luas areal ini, belum diikuti oleh peningkatan produktivitas penanaman di areal tersebut. Realisasi penanaman pada tahun 1996 hanya sebesar 50%, dan malah menurun hingga 43% pada tahun 1997, dan hanya tinggal 32% pada tahun 1998. Sedangkan untuk tahun 2006, luas hutan tanaman yang sudah ditanam hanya mencapai 2,88 juta ha dari target 10,2 juta ha sesuai ijin yang dikeluarkan pemerintah.

Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit

Minyak sawit mentah (CPO) saat ini menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia. Akibatnya, kebutuhan pembukaan lahan kelapa sawit dilakukan secara masif. Sumatera dan Kalimantan merupakan wilayah yang menjadi sasaran utama. Dari kurang lebih 5,25 juta ha lahan yang dialokasikan untuk kelapa sawit tahun 2003, sekitar 19 % ada di Kalimantan dan 72% di Sumatera. Namun yang sangat mengejutkan, luas lahan kelapa sawit mengalami lompatan yang amat besar di Kalimantan, yaitu meningkat 1.056% dari 1990 dan 2003. Perluasan areal tanaman ini dimulai sejak investasi asing dibuka kembali pada tahun 1967. Hingga tahun 2005 luas perkebunan ini mencapai 5,59 juta ha. Diperkirakan perluasan perkebunan kelapa sawit masih akan terus dilakukan sampai 13,8 juta ha pada tahun 2020. Dari luas 105.808 ha pada tahun 1967, areal perkebunan kelapa sawit kini berkembang menjadi 5,59 juta ha pada tahun 2005.
Masa kejayaan sektor perkebunan ini dimulai sejak tahun 1990 hingga kini. Sayangnya, masih banyak perusahaan yang hanya tertarik untuk mengambil kayu daripada menanam kelapa sawit pada wilayah konsesinya.25 Menurut beberapa kajian, hampir semua perkebunan kelapa sawit berasal dari kegiatan konversi hutan produksi.26 Dengan prosedur untuk memperoleh lahan hutan yang relatif mudah, maka perusahaan dapat menebang habis serta menjual kayunya dan menjadi satu bisnis sampingan yang cukup menguntungkan,27 di luar keuntungan hasil panen kelapa sawit di masa yang akan datang. Bahkan ada diantaranya yang tidak pernah mempunyai keinginan untuk membangun perkebunan kelapa sawit, tetapi hanya mengejar ijin konversi untuk memperoleh keuntungan dari kayu yang didapatkan dari kegiatan pembukaan lahan (land learing).

Alih Fungsi untuk Pertambangan

Lantas seberapa besar sebenarnya kontribusi pertambangan terhadap kerusakan hutan di Indonesia? Untuk mengetahui hal tersebut kita harus melihat berapa jumlah perijinan pertambangan mineral dan batubara yang ada. Sampai ini, ijin yang dikeluarkan ESDM terdapat sekitar 1.830-an ijin (KK, KP & PKP2B) dengan total luas konsesi sekitar 28,27 juta ha. Dari total jumlah ijin yang dikeluarkan, ada 150 diantaranya berada di kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi dengan luas lebih dari 11 juta ha (data olahan JATAM 2006). Dampak dari kegiatan pertambangan diyakini memiliki daya rusak yang sangat sulit dipulihkan, kerusakan lingkungan, konflik horisontal dan pemiskinan menjadi fakta yang sering kita jumpai di lapangan. Padahal pendapatan negara dari sektor pertambangan tidaklah terlalu signifikan bila dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan.
Ancaman alih fungsi kawasan hutan lindung dan kawasan hutan konservasi datang juga dari pertambangan Minyak & Gas Bumi (MIGAS). Hingga tahun 2006, pemerintah melalui Departemen ESDM sudah mengeluarkan ijin 202 blok migas (Offshore & Onshore)29. Dari jumlah tersebut sebanyak 68 blok (sekitar 1,8 juta ha) bertumpang tindih dengan 45 kawasan konservasi seperti Taman Nasional, Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Wisata Alam, Taman Hutan Raya.

Politik dan Tata Kelola Kehutanan

Permasalahan kehutanan dimulai ketika keputusan politik untuk memanfaatkan sumberdaya hutan alam untuk membiayai pembangunan nasional ditetapkan pada tahun 1969 tanpa ada penyiapan pra kondisi yang memadai. Setidaknya terdapat tiga masalah yang penting untuk bisa dicatat, yaitu:
1. Penunjukan kawasan hutan tidak didasarkan atas fakta sosial lapangan yang akurat. Secara legal, penunjukan kawasan hutan didasarkan atas TGHK yang kemudian diperbaharui dengan padu serasi TGHK dan tata ruang di tingkat Propinsi (RTRWP). Legitimasi kawasan hutan dinilai cacat secara hukum agraria akibat rendahnya kinerja pengukuhan kawasan hutan yang hingga kini baru mencapai lebih kurang 10 %, serta lemahnya akomodasi negara terhadap hak-hak masyarakat dan konflik laten vertikal penggunaan lahan aktual antara kabupaten, propinsi dan nasional.
2. Lemahnya kapasitas negara dalam mengelola hutan dan tuntutan kebutuhan akan dana pembangunan pada saat itu telah mendorong kebijakan yang bias pada pengusahaan hutan alam yang akhirnya menyebabkan biaya transaksi yang sangat tinggi, pengabaian hak-hak masyarakat dan tingginya intervensi negara dalam hal teknis pengelolaan hutan. Akibatnya, profesionalisme pengelolaan hutan tidak berkembang, serta kelestarian hutan, khususnya pada hutan produksi, tidak menjadi fokus perhatian dalam implementasi kebijakan kehutanan.
3. Penunjukan kawasan hutan lindung dan hutan konservasi tidak diikuti dengan penyiapan kapasitas pengelola yang memadai di tingkat tapak. Dalam kondisi itu dan dibarengi oleh lemahnya kemantapan kawasan hutan, secara de facto di hutan lindung dan hutan konservasi banyak mengalami kerusakan akibat tingginya konflik sosial dan tindakan haram.
Implikasi permasalahan di atas adalah rendahnya kinerja pengurusan hutan di Indonesia dan bias kerangka pikir para pelaku pembangunan kehutan yang cenderung bersifat technocentris. Resultante penyelenggaraan pengurusan hutan oleh negara, yang dijabarkan menjadi birokrasi, regulasi dan kebijakan pemerintah belum mampu mengarahkan perilaku para aktor pembangunan untuk mencapai tujuan pengelolaan hutan lestari. Hal ini diperparah dengan adanya keragaman tafsir mengenai pengurusan hutan oleh para pemangku kepentingan. Ketimpangan struktur dan proses, dimana kekuasaan, kewenangan, kerjasama dan konflik diartikulasikan untuk mengendalikan pengambilan keputusan dan penyelesaian keberatan terkait alokasi sumberdaya hutan dan penggunaannya melalui interaksi antar organisasi dan lembaga sosial, baik pemerintah, non pemerintah, formal maupun informal, menggambarkan lemahnya tata kelola kehutanan di Indonesia.
Lemahnya ketersediaan data dan belum adanya keterbukaan, menjadi faktor penting lain yang menyebabkan lemahnya kontrol terhadap pemanfaatan dan pengelolaan hutan selama ini. Dengan kata lain, munculnya tuntutan atas upaya pembaharuan kebijakan kehutanan untuk membenahi unsur keterbukaan dalam pengelolaan hutan melalui penyediaan informasi yang lengkap, terkini dan dapat dipercaya. Informasi tentang kepastian hak dan batas-batas kawasan hutan serta kondisi dan pemanfaatan sumberdaya hutan menjadi kebutuhan dasar bagi para pihak terutama pemerintah untuk menjalankan berbagai bentuk kewenangan penyelenggaraan kehutanan. Kurang lebih, inilah makna dari slogan “Good forest governance needs good forest information”.

 

sumber : fwi.or.id

BUMI

Bumi adalah sebuah planet kebumian, yang artinya terbuat dari batuan, berbeda dibandingkan gas raksasa seperti Jupiter. Planet ini adalah yang terbesar dari empat planet kebumian, dalam kedua arti, massa dan ukuran. Dari keempat planet kebumian, bumi juga memiliki kepadatan tertinggi, gravitasi permukaan terbesar, medan magnet terkuat dan rotasi paling cepat. Bumi juga merupakan satu-satunya planet kebumian yang memiliki lempeng tektonik yang aktif.
Bentuk
Putaran rotasi bumi pada poros utara-selatan yang berakibat terjadinya siang dan malam

Bentuk planet Bumi sangat mirip dengan bulat pepat (oblate spheroid), sebuah bulatan yang tertekan ceper pada orientasi kutub-kutub yang menyebabkan buncitan pada bagian khatulistiwa. Buncitan ini terjadi karena rotasi bumi, menyebabkan ukuran diameter katulistiwa 43 km lebih besar dibandingkan diameter dari kutub ke kutub. Diameter rata-rata dari bulatan bumi adalah 12.742 km, atau kira-kira 40.000 km/π. Karena satuan meter pada awalnya didefinisikan sebagai 1/10.000.000 jarak antara katulistiwa ke kutub utara melalui kota Paris, Perancis.

Topografi lokal sedikit bervariasi dari bentuk bulatan ideal yang mulus, meski pada skala global, variasi ini sangat kecil. Bumi memiliki toleransi sekitar satu dari 584, atau 0,17% dibanding bulatan sempurna (reference spheroid), yang lebih mulus jika dibandingkan dengan toleransi sebuah bola biliar, 0,22%. Lokal deviasi terbesar pada permukaan bumi adalah gunung Everest (8.848 m di atas permukaan laut) dan Palung Mariana (10.911 m di bawah permukaan laut). Karena buncitan khatulistiwa, bagian bumi yang terletak paling jauh dari titik tengah bumi sebenarnya adalah gunung Chimborazo di Ekuador.

Proses alam endogen/tenaga endogen adalah tenaga bumi yang berasal dari dalam bumi. Tenaga alam endogen bersifat membangun permukaan bumi ini. Tenaga alam eksogen berasal dari luar bumi dan bersifat merusak. Jadi kedua tenaga itulah yang membuat berbagai macam relief di muka bumi ini seperti yang kita tahu bahwa permukaan bumi yang kita huni ini terdiri atas berbagai bentukan seperti gunung, lembah, bukit, danau, sungai, dsb. Adanya bentukan-bentukan tersebut, menyebabkan permukaan bumi menjadi tidak rata. Bentukan-bentukan tersebut dikenal sebagai relief bumi.

Lapisan bumi

Menurut komposisi (jenis dari materialnya), bumi dapat dibagi menjadi lapisan-lapisan sebagai berikut:

* Kerak Bumi
* Mantel Bumi
* Inti Bumi

Sedangkan menurut sifat mekanik (sifat dari material)-nya, bumi dapat dibagi menjadi lapisan-lapisan sebagai berikut:

* Litosfir
* Astenosfir
* Mesosfir

* Inti Bumi bagian luar

Inti bumi bagian luar merupakan salah satu bagian dalam bumi yang melapisi inti bumi bagian dalam. Inti bumi bagian luar mempunyai tebal 2250 km dan kedalaman antara 2900-4980 km. Inti bumi bagian luar terdiri atas besi dan nikel cair dengan suhu 3900 °C.

* Inti Bumi bagian dalam

Inti bumi bagian dalam merupakan bagian bumi yang paling dalam atau dapat juga disebut inti bumi. inti bumi mempunyai tebal 1200km dan berdiameter 2600km. Inti bumi terdiri dari besi dan nikel berbentuk padat dengan temperatur dapat mencapai 4800 °C.

MANFAAT LIDAH BUAYA

Bentuk tumbuhan lidah buaya mungkin memang sederhana dan tak menarik. Tapi jangan salah, si lidah buaya ini ternyata punya manfaat yang banyak sekali, baik untuk kecantikan maupun kesehatan. Ada lebih dari 200 jenis tumbuhan lidah buaya (aloe vera), tapi sebenarnya hanya lima jenis yang dipertimbangkan memiliki manfaat untuk kesehatan atau digunakan untuk produk-produk kecantikan, yakni Aloe Barbadensis Miller, Aloe Perryi Baker, Aloe Ferox, Aloe Arborescens dan Aloe Saponaria.

Semakin tua tumbuhan lidah buaya semakin memberi manfaat untuk nutrisi maupun pengobatan. Gel lidah buaya seringkali digunakan untuk mengobati luka gores, tersayat, gigitan serangga dan ruam. Manfaat lidah buaya untuk kesehatan sebenarnya sudah dikenal sejak dahulu kala. Menurut catatan sejarah mengindikasikan penggunaan lidah buaya untuk bahan pengobatan telah digunakan sejak 1.500 SM. Lidah buaya diduga juga jadi bahan rahasia kecantikan Cloepatra dan disebutkan dalam al kitab beberapa kali.

Manfaat Minum Jus Lidah Buaya

Penyembuhan dan pengobatan luar biasa dari tumbuhan ini juga bermanfaat untuk kecantikan. Dengan meminum dua sampai empat ons, atau bahkan 1/2 cangkir jus lidah buaya setiap hari akan membuat kulit Anda terlihat bersih dan memperbaiki kualitas kulit.

Lidah buaya dapat memperkaya persediaan material pembangun untuk memproduksi dan memperbaiki kesehatan kulit. Secara alami kulit kita memperbaiki diri dalam setiap 21 hingga 28 hari. Nutrisi pembentuk yang dikandung lidah buaya ini dapat digunakan oleh kulit kita untuk melawan efek penuaan.

Lidah Buaya Bermanfaat Untuk Perawatan Jerawat Dan Kulit Berminyak

Sepanjang hari kulit kita diterpa dengan polusi, kotoran dan elemen lain dari lingkungan. Jika Anda bermasalah dengan jerawat atau memiliki kulit berminyak sangat penting untuk membersihkan wajah setelah keluar rumah. Dan lidah buaya bisa jadi pilihan bagus untuk perawatan wajah. Berbagai kandungan mengganggu yang melayang di udara biasanya menempel pada kulit berminyak dan dapat menyebabkan noda yang memperburuk keadaan kulit bermasalah. Ph pada lidah buaya mengembalikan keseimbangan kulit sekaligus membersihkan kulit yang bernoda. Anda bisa membasuh bekas olesan lidah buaya di wajah ini dengan air bersih.

Lidah buaya untuk perawatan kulit berminyak bisa juga dijadikan sebagai masker wajah. Berikut resepnya:

* 1 sendok makan masker lumpur
* 1 sendok makan jus lidah buaya
* 1 sendok makan tepung hazel
* air secukupnya untuk membuat bahan-bahan ini jadi pasta
* tambahkan 1 tetes essential tea tree oil
* 1 tetes essential oil lavender
* 1 tetes essential oil peppermint

Campurkan semua bahan, oleskan dan didiamkan selama 15 menit dan basuh dengan air hangat lalu percikkan air dingin.

Jika Anda ingin cara alami perawatan kulit dengan lidah buaya untuk kulit berminyak atau mengatasi kulit bernoda, campurkan jus lidah biaya dengan air ditambah essential oil yang menenangkan dan gunakan untuk mist sepanjang hari.

Betapa banyaknya manfaat lidah buaya untuk kecantikan dan kesehatan. Tak ada salahnya jika mencoba cara sederhana ini untuk menjaga kecantikan dan kesehatan kita. Selamat Mencoba!

DARAH

Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah. Pada serangga, darah (atau lebih dikenal sebagai hemolimfe) tidak terlibat dalam peredaran oksigen. Oksigen pada serangga diedarkan melalui sistem trakea berupa saluran-saluran yang menyalurkan udara secara langsung ke jaringan tubuh. Darah serangga mengangkut zat ke jaringan tubuh dan menyingkirkan bahan sisa metabolisme. Pada hewan lain, fungsi utama darah ialah mengangkut oksigen dari paru-paru atau insang ke jaringan tubuh. Dalam darah terkandung hemoglobin yang berfungsi sebagai pengikat oksigen. Pada sebagian hewan tak bertulang belakang atau invertebrata yang berukuran kecil, oksigen langsung meresap ke dalam plasma darah karena protein pembawa oksigennya terlarut secara bebas. Hemoglobin merupakan protein pengangkut oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan-hewan bertulang belakang atau vertebrata. Hemosianin, yang berwarna biru, mengandung tembaga, dan digunakan oleh hewan crustaceae. Cumi-cumi menggunakan vanadium kromagen (berwarna hijau muda, biru, atau kuning oranye).

VITAMIN B

Vitamin B adalah 8 vitamin yang larut dalam air dan memainkan peran penting dalam metabolisme sel. Dalam sejarahnya, vitamin pernah diduga hanya mempunyai satu tipe, yaitu vitamin B (seperti orang mengenal vitamin C atau vitamin D). Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa komposisi kimia didalamnya membedakan vitamin ini satu sama lain dan terlihat dalam contohnya dalam beberapa makanan. Suplemen yang mengandung ke-8 tipe ini disebut sebagai vitamin B kompleks. Masing-masing tipe vitamin B suplemen mempunyai nama masing-masing (contoh; B1, B2, B3).

MACAM-MACAM VITAMIN B:
* Vitamin B1 (tiamin)
* Vitamin B2 (riboflavin)
* Vitamin B3,(niasin, termasuk asam nikotinat dan nikotinamida)
* Vitamin B5 (asam pantotenat)
* Vitamin B6 (piridoksin)
* Vitamin B7, juga dikenal sebagai vitamin H (biotin)
* Vitamin B9, juga dikenal sebagai vitamin M dan vitamin B-c (asam folat)
* Vitamin B12 (kobalamin)

Mata

Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Yang dilakukan mata yang paling sederhana tak lain hanya mengetahui apakah lingkungan sekitarnya adalah terang atau gelap. Mata yang lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan pengertian visual.

Organ luar

* Bulu mata
* Alis mata
* Kelopak mata

Organ dalam

Bagian-bagian pada organ mata bekerjasama mengantarkan cahaya dari sumbernya menuju ke otak untuk dapat dicerna oleh sistem saraf manusia. Bagian-bagian tersebut adalah:

* Kornea
Merupakan bagian terluar dari bola mata yang menerima cahaya dari sumber cahaya.
* Pupil dan iris
Dari kornea, cahaya akan diteruskan ke pupil. Pupil menentukan kuantitas cahaya yang masuk ke bagian mata yang lebih dalam. Pupil mata akan melebar jika kondisi ruangan yang gelap, dan akan menyempit jika kondisi ruangan terang. Lebar pupil dipengaruhi oleh iris di sekelilingnya.Iris berfungsi sebagai diafragma. Iris inilah terlihat sebagai bagian yang berwarna pada mata.
* Lensa mata
Lensa mata menerima cahaya dari pupil dan meneruskannya pada retina. Fungsi lensa mata adalah mengatur fokus cahaya, sehingga cahaya jatuh tepat pada bintik kuning retina. Untuk melihat objek yang jauh (cahaya datang dari jauh), lensa mata akan menipis. Sedangkan untuk melihat objek yang dekat (cahaya datang dari dekat), lensa mata akan menebal.
* Retina atau Selaput Jala
Retina adalah bagian mata yang paling peka terhadap cahaya, khususnya bagian retina yang disebut bintik kuning. Setelah retina, cahaya diteruskan ke saraf optik.
* Saraf optik
Saraf yang memasuki sel tali dan kerucut dalam retina, untuk menuju ke otak.

Penyakit mata

* Miopi
Miopi yakni seseorang yang tidak dapat melihat benda yang berjarak jauh. Biasanya terjadi pada pelajar.dapat dibantu dengan kacamata berlensa cekung.
* Hipermetropi
Hipermetropi yaitu seseroang yang tidak dapat melihat benda yang berjarak dekat dari mata. Dapat dibantu dengan kacamata berlensa cembung.
* Presbiopi
Presbiopi adalah seseorang yang tidak dapat melihat benda yang berjarak dekat maupun berjarak jauh.Dapat dibantu dengan kacamata berlensa rangkap. Biasa terjadi pada lansia.* Kerabunan dan kebutaan
Buta berarti seseorang tidak dapat melihat benda apapun sama sekali. Buta bisa saja diakibatkan keturunan, maupun kecelakaan. Rabun berarti seseorang hanya dapat melihat dengan samar-samar. Orang-orang yang buta maupun rabun biasanya “membaca” dengan jari-jarinya. Ini disebut huruf Braille.
* Buta warna
Buta warna adalah suatu kondisi dimana seseorang sama sekali tidak dapat membedakan warna. Yang dapat dilihat hanyalah warna hitam, abu-abu, dan putih. Buta warna biasanya merupakan penyakit turunan. Artinya jika seseorang buta warna, hampir pasti anaknya juga buta warna.
* Katarak
Katarak adalah suatu penyakit mata di mana lensa mata menjadi buram karena penebalan Lensa Mata dan terjadi pada orang lanjut usia (lansia).
* Astigmatis = ketidakaturan lengkung – lengkung permukaan bias mata yang berakibat cahaya tidak fokus pada satu titik retina(bintik kuning). Dapat dibantu dengan kacamata slinder/Operasi refraktif (graciella.sanjose.bali)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.